Selasa, 05 September 2017

ARTI MEMILIKI (CERPEN)

Oleh Lia
 

Gemerlap kembang api mewarnai langit malam itu. Semua orang tampak bahagia menyambut pergantian tahun. Tetapi tidak dengan Ida. Gadis belia berusia 17 tahun itu sama sekali tak tertarik dengan kemeriahan itu. Ia lebih memilih memanjakan diri dengan tidur sepanjang malam. Begitulah Ida, dia selalu berbeda dengan anak – anak lain seusianya.
Pagi – pagi sekali Ida sudah terbangun. Ia mengambil gelang, kalung, ikat rambut, jam tangan serta anting – anting yang sudah tersedia di meja dan memakainya. Hari itu adalah hari pertama ia masuk sekolah pasca pindah rumah ke Bandung. Pukul 07.00 WIB Ida sudah sampai di sekolah barunya. Sambutan gurunya sangat baik, akan tetapi tidak dengan teman –temannya.
Ketika tiba jam istirahat, salah satu temannya datang menghampirinya. Namanya Tata, sang ketua kelas. Dia menatap aneh dan seolah ada rasa benci kepada Ida. Ida berusaha ramah dengan tersenyum kepada Tata. Akan tetapi senyumnya tak terbalas, justru malah mendapatkan serangan pedas dari mulut temannya. “Anak baru ! kamu mau sekolah atau melenong ? Aksesoris yang kamu pakai terlalu berlebihan, tidak pantas ke sekolah seperti itu !” begitu ucap Tata. Tanpa membalas komentar sang ketua kelas, Ida langsung berdiri meninggalkan Tata dengan muka tampak kesal.
Bel berbunyi tanda waktu pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar kelas girang. Ida adalah siswa terakhir yang meninggalkan kelas. Ketika hendak melangkahkan kaki keluar kelas, tak diduga ternyata Tata sudah berdiri di depan kelas. Dengan tatapan yang sama seperti jam istiahat tadi. “ Kanapa kamu menatapku seperti itu ? ada apa ? kamu mau mengejekku lagi ?” begitu pertanyaan yang dilontarkan Ida sebelum Tata bersuara.
Tata tak menjawab banyak. Ia hanya menatap pernak – pernik di badan Ida yang dirasa berlebihan olehnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Ida.
Keesokan harinya, siswa masuk seperti biasa. Akan tetapi Ida sama sekali tak kelihatan ujung rambutnya. Bahkan hingga guru mata pelajaran pun Ida belum masuk kelas. Dia terlambat. Ketika guru hendak memulai pelajaran pintu kelas ada yang mengetuk. Semua tampak tercengang melihat siapa yang mengetuk pintu. Seorang perempuan dengan dandanan seperti laki – laki. Dialah Ida. Siswa baru yang kemarin diejek oleh sang ketua kelas karena dandanannya yang telalu berlebihan. Hari ini ia tampak beda seratus persen, bahkan ia lebih luwes berpenampilan seperti itu. Tata yang juga menyaksikan penampilan Ida tampak kaget.
Usai mata pelajaran yang pertama, teman – teman Ida datang menghampirinya. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan teman barunya itu. Ida menjelaskan bahwa seperti itulah dirinya yang sebenarnya. Sesungguhnya sejak kecil Ida adalah tomboy dan tak suka bersolek. Dia berkata bahwa dirinya berdandan seperti saat ia pertama masuk sekolah adalah karena Ibunya. Ida dipaksa untuk berdandan layaknya perempuan. Ibunya khawatir dan takut. Oleh karena itu dipaksalah berdandan seperti itu. Ida mengatakan dirinya memang suka dan nyaman berdandan seperti apa adanya dirinya.
Sejak saat itu, Tata tak lagi mengejek Ida. Justru mereka sekarang menjadi teman akrab. Keduanya semakin akrab karena sama – sama berkecimpung di kegiatan olahraga. Hanya beda komunitas saja, Tata mengikuti ekskul (ekstrakurikuler) Basket sedang Ida Karate. Akan tetapi hal tersebut tak menjadi masalah karena sama – sama bidang olahraga dan saling bertemu.
Persahabatan Ida dan Tata semakin kuat. Tak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain. Rupanya kedekatan persahabatan mereka ada yang tidak suka. Reny, mantan kekasih Tata sepertinya cemburu melihat kedekatan itu. Reny yang juga tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler karate harus melihat keduanya bersama setiap harinya. Pernah Reny sengaja mencalonkan diri menjadi ketua ekskul hanya demi tidak mau kalah saing dengan Ida. Ida yang memang memiliki bakat di bidang karate sejak masa SD pun berhasil mengalahkan Reny dan menjadi ketua ekskul.
Meskipun dekat, Ida dan Tata tak meiliki perasaan cinta. Murni sayang seperti saudara keduanya sama – sama anak tunggal. Sesungguhnya Tata masih memiliki perasaan yang dalam terhadap Reny, akan tetapi Tata menyembunyikan hal itu dari Reny karena Tata ingin melihat perubahan dari sifat Reny yang kurang baik. Sedangkan Ida belum memiliki kekasih.
Suatu hari Ida pergi ke taman kota. Kali ini ia tidak bersama Tata karena Tata sedang ada latihan intensif untuk lomba. Ida terpaksa pergi sendiri karena harus menyelesaikan tugas penelitiannya. Ida menemui beberapa pengamen jalanan di setiap sudut taman kota itu. Akan tetapi setiap kali diminta untuk diwawancarai, satu per satu pengamen itu menolak dan pergi meninggalkan Ida. Sampai akhirnya ia menemukan seorang pengamen yang amat sangat mengesankan baginya. Tampak luwes sekali dalam bernyanyi, tak seperti pengamen – pengamen lain yang hanya asal keluar suara.
Ida menikmati setiap alunan nada yang dimainkan oleh pengamen itu hingga hampir lupa dengan tujuannya ke taman kota. Ida menghampiri pengamen yang telah mempesonanya itu. Agus Candra nama pengamen itu. Awalnya Candra menolak untuk diwawancarai, akan tetapi atas usahanya Ida berhasil mewawancarai Candra. Sejak saat itu Candra dan Ida sering bertemu dan bertukar pikiran. Mereka layaknya seperti orang yang sedang melakukan pendekatan.
Gemuruh penonton menghiasi suasana gymnasium. Perlombaan Basket antar sekolah telah tiba. Tata yang merupakan kapten dari tim basket sekolahnya sedang berlaga di lapangan. Teriakan dukungan tak lepas terdengar. Di kursi penonton tampak Ida ikut bersorak sorai menyemangati Tata dan Tim. Di sudut lain juga tampak Reny menyaksikan perlombaan itu.
Pluit panjang berbunyi tandai berakhirnya waktu. Perlombaan dimenangkan oleh Tim Basket sekolah Tata. Semua tampak bergembira. Ida yang tak kalah gembira berlari dari kursi penonton dan menghampiri sahabatnya yang sedang dalam kerumunan orang. Ida memeluk sahabatnya itu dan memberikan minum kepada Tata usai mengucapkan selamat. Reny yang menyaksikan hal itu langsung pergi meninggalkan gymnasium.
Penutupan perlombaan itu diisi dengan acara musik. Betapa kagetnya Ida begitu tahu siapa orang yang bernyanyi di sekolahnya itu. “Candra” begitu gumam Ida. Tata yang mendengar gumaman itu pun bertanya kepada sahabatnya. Akan tetapi Ida tak langsung menjawab, ia malah menarik tangan Tata dan berlari menuju balik panggung musik itu. Ida memanggil Candra dan memperkenalkannya dengan Tata. Awalnya Tata kaget mengetahui sahabatnya bergaul dengan pengamen jalanan. Akan tetapi, melihat Ida senang dan tak tertekan Tata pun ikut senang dan tak khawatir karena dirasanya Candra anak yang baik.
Waktu terus berjalan. Begitu pula dengan hubungan Ida dan Candra. Mereka semakin dekat dan mereka telah resmi menjadi pasangan kekasih. Tata yang menyaksikan kebahagiaan sahabatnya pun ikut berbahagia. Hampir 4 bulan sudah usia hubungan Ida dan Candra. Awalnya Candra sangat sayang dan peduli dengan Tata. Akan tetapi makin ke sini sikap Candra berubah drastis. Candra menjadi orang yang super cuek, susah dihubungi dan tidak peka.
Suatu hari Ida sudah berada pada puncak kegeramannya. Ia melontarkan banyak pertanyaan ditujukan ke Candra melalui chating. Betapa kagetnya Ida membaca jawaban dari kekasihnya itu. Candra meminta maaf kepada Ida dan dia meminta putus dengan Ida. Candra merasa tak pantas dengan Ida. Dirinya dan Ida berbeda jauh. Candra berfikir sekarang atau nanti pasti akan berakhir dengan tragis, jadi percuma diteruskan.
Ida menjerit dalam hati. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia benar – benar tak menyangka bahwa orang yang amat begitu dikasihinya bisa berubah menjadi orang yang sulit dipercaya. Sebelum berpacaran, Candra juga sempat memiliki pemikiran seperti itu. Akan tetapi pada saat itu ia tak patah semangat seperti sekarang ini. Entah apa yang terjadi hingga Candra bisa setega itu dengan Ida.
Dua hari berlari. Ida masih dalam kesedihannya. Dia pikir sedang mimpi buruk, tapi ternyata tidak. Ini nyata, Candra benar – benar telah meninggalkannya. Ida seperti kehilangan selera untuk melakukan apapun. Hanya bisa meratapi kesedihannya. Tata tak kuasa melihat kondisi sahabatnya. Ia mendekati sahabat karibnya itu dan mengatakan bahwa Candra sudah keluar dari tempat kerjanya dan di taman kota juga tidak terlihat wajahnya. Tata mencoba menenangkan Ida dan meminta untuk berhenti bersedih. “Mari kita fokus untuk ujian kelulusan sekolah Da, tak perlu kau fikirkan lagi tentang Candra. Jika memang kalian berjodoh pasti akan kembali”. Begitu bijak perkataan Tata.
Ida yang mendengar ucapan Tata semakin sedih. Ucapan itu mengingatkannya pada Candra. Sama persis, “kalau kita jodoh, pasti tak akan ke mana”. Dalam bathinnya Ida berkata “aku menyesal tak mencegahmu pergi kala itu. Seharusnya aku tak mengiyakan. Kenapa kamu setega itu mengucapkannya disaat aku sedang sakit gigi ? Dengarkan aku Can, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga denganku ataupun kamu. Iya aku akui di luar sana emang banyak sekali yang lebih segalanya dari kamu. Tapi apakah aku melihat kelebihan mereka ? Tidak. Aku memilih kamu, artinya aku siap dengan segala apa yang terjadi pada kamu. Jika benar kamu tidak bermaksud meninggalkanku, kenapa bisa berbicara begitu ? Sudahlah jangan melemah, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini ? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mengucapkan kata perpisahan ? mari bersama – sama saling mendukung dan menguatkan. Apa gunanya pasangan kalau tidak saling melengkapi ? Iya aku tahu jodoh memang tidak akan ke mana, tapi apakah kamu juga tahu bahwa tukang tikung ada di mana – mana ? Berjuang bersama itu lebih ringan. kamu tidak ingin berjuang bersamaku lagi untuk kita ? kamu ingin menyerah begitu saja dengan perjalanan ini ? Lalu mau dikemanakan mimpi – mimpi yang sudah direncanakan ? Kalau kamu lelah lihatlah ke belakang, ada aku yang akan selalu mendukungmu”.
Ida kembali dengan rutinitasnya. Ia dan Tata kini telah lulus sekolah. Mereka melanjutkan pendidikan di Jawa Tengah, tetapi tidak satu kampus. Tata kuliah kedokteran di salah satu universitas swasta sedang Ida kuliah jurusan keguruan di perguruan tinggi negeri dan  satu kampus dengan Reny, mantan kekasih Tata. Lagi – lagi mereka satu kelas karena kebetulan satu jurusan.
Ida yang telah lama mengatahui Reny tidak suka dengannya karena selalu bersama Tata kini mencoba mendekati Reny. Ia menjelaskan bahwa dirinya dan Tata hanyalah sahabat semata, tak lebih. Lama kelamaan Reny pun luluh dengan kebaikan yang diberikan oleh Ida kepadanya. Mereka kini juga menjadi teman baik, bukan saingan seperti dulu ketika SMA.
Akhir pekan akan ada pertandingan karate di kota Jawa Tengah. Berhubung sudah selesai skripsi dan hanya tinggal wisuda di bulan depan, Ida dan Reny ikut dalam kompetisi itu. Sehari sebelum perlombaan dimulai, telepon genggam Ida berbunyi. Dari Tata. Tata mengabarkan bahwa dirinya besok siang akan kembali ke Jawa Tengah setelah praktek dari Singapura. Ia menawarkan oleh – oleh kepada sahabatnya. Ida tak meminta apapun kepada Tata, ia hanya berkata bahwa kehadirannya di kompetisi yang akan diikutinya besok lebih berharga dari sebuah oleh – oleh. Tata pun berjanji akan datang ke hari kompetisinya.
Pagi itu telah sampai di Jawa tengah. Ketika hendak melanjutkan perjalanan menuju kos, ia seperti melihat seseorang yang tak asing baginya. Orang itu berada di kerumunan orang banyak. Candra, ya itu Candra. “Candra! begitu teriak Tata. Orang yang dikiranya Candra itu pun menoleh, dan benar itu adalah Candra.
Candra sudah sukses. Ia kini menjadi penyanyi terkenal. Di sela kesibukannya, Tata mengajak Candra makan siang sambil bercakap – cakap menanyakan kabar. Keasyikan berbincang, Tata hampir terlupa sesuatu. Tata mengajak Candra untuk melihat Ida berlaga di lapangan. Candra yang masih sangat sayang dengan Ida mengiyakan ajakan Candra. Ia meminta managernya untuk menunda jadwal wawancaranya menjadi malam hari.
Lapangan sudah sangat padat dipenuhi penonton. Ida dan Reny bersiap – siap untuk berjuang menjadi sang pemenang. Sembari menunggu giliran, mata Ida memandang barisan penonton mencari – cari sahabat karibnya. Tibalah giliran Ida dan Reny. Keduanya masuk dalam semi final. Akan tetapi Reny gagal mencapai tahap grand final dan hanya mendapatkan juara harapan 2. Reny memeluk erat Ida. Ia merasa bersalah karena tak bisa masuk ke babak final. Ida yang tak tega melihat teman dekatnya menangis pun mencoba menenangkan dan berjanji untuk memenangkan perlombaan.
Tiba saatnya Ida melawan musuhnya di perebutan juara 1 lomba karate. Ida sudah memasuki area. Matanya kembali mencari – cari sesuatu, akan tetapi yang dicarinya tak ada. Ia tampak kecewa. Tiba – tiba ada yang berteriak untuknya “Ida ! jangan patah semangat, kamu pasti bisa! aku bawakan hadiah istimewa untukmu”. Tata, ya itu suara Tata. Ia datang disaat yang sangat tepat. Tata sengaja meminta Candra untuk tak menampakkan diri dahulu agar kehadiannya bisa menjadi kejutan dan hadiah istimewa untuk Ida.
Waktu tinggal 10 detik lagi. Persaingan semakin panas. Ida dan lawannya memiliki skor yang tidak beda jauh. Hanya selisih 1 angka, unggul di Ida. Meskipun hanya 1 angka Ida tetap tidak akan membiarkan musuhnya mendapatkan poin lagi. Di detik – detik terakhir waktu, Ida dan musuhnya sama – sama mengambil ancang – ancang untuk menyerang. Plaaakkk ! suara punggung kaki Ida menyentuh pipi lawannya.
Perlombaan dimenangkan oleh Ida. Semua bersorak. Akan tetapi ada yang aneh dengan sang juara. Ia tak bergerak sama sekali. Ia dan lawannya sama – sama menyerang menggunakan tendangan. Ida ke pipi dan lawannya ke dada. Akan tetapi lebih dulu Ida sehingga ia yang menjadi pemenang. Melihat keanehan itu wasit pun mendekat untuk melihat kondisi Ida. Wajah Ida tampak pucat, sepertinya terjadi sesuatu padanya. Rupanya tendangan ke dada Ida penyebabnya. Semua panik dan Ida dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Tata, Candra, Reny  dan teman – teman yang lain serta dosen dan orang tua Ida menunggu di luar ruangan Ida diperiksa. Mereka semua berharap cemas. Memanjatkan doa untuk Ida. Kreeek, pintu ruangan terbuka pelan. Ida sudah selesai diperiksa. Semua berdiri, mengharapkan berita yang baik. Dokter hanya menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah kata. Kemudia berjalan pergi. Beberapa detik setelah itu, langkah sang dokter disusul oleh para perawat yang mendorong sebuah ranjang yang berisi orang tertutup tubuhnya.
Semua kaget dan tak percaya melihat hal itu. Orang tua Ida berlari mendekati perawat dan membuka penutup badan. Ida ia terbaring pucat dan kaku, nyawanya tak tertolong. Tendangan di dadanya telah menghentikan nafasnya. Semua yang berada di situ menangis histeris termasuk orang tua, dan para sahabat Ida. Orang yang selama ini dikenal baik dan tidak sombong itu telah menghadap Tuhannya.
Candra menangis di atas makan yang masih merah itu. Ia tak menyangka jika Ida harus pergi secepat itu. Ia pun juga menyesali perbuatannya di masa lalu yang tega meninggalkan dan menyakiti hati Ida. Disaat dirinya telah sukses dan memiliki nyali untuk berani kembali, justru malah Ida yang pergi. Bahkan bukan sekedar pergi untuk mengejar mimpi belaka, tetapi pergi selama – lamanya dari kehidupan dunia. Candra benar – benar menyesali perbuatannya. Tata dan Reny yang menyaksikan hal itu pun angkat bicara dan membujuk Candra untuk pulang karena hari sudah larut malam dan akan hujan. Setelah dibujuk – bujuk, akhirnya Candra mengikuti perkataan Tata.
Seminggu setelah kematian Ida, Candra mendatangi rumah Tata. Ia berpamitan pergi ke Malaysia karena telah menandatangani kontrak kerja di sana selama 1 tahun. Awalnya Candra tak ingin menerima kontrak kerja itu karena ingin berada di negeri sendiri sembari menjemput jodohnya, Ida. Berhubung Ida sudah tenang, Candra merasa harus pergi sejenak agar tak berlarut dalam kesedihan.
Tata dan keluarganya melepas kepergian Candra. Sebelum berpisah, Tata memberikan sebuah undangan dan berbisik ke telinga Candra “kamu harus datang ke pertunanganku dan Reny bulan depan”. Candra mengangguk tersenyum dan memberikan ucapan selamat serta doa kepada Tata. Bathin Candra berteriak “harusnya aku dan Ida juga bertunangan seperti mereka”. Karena tak kuasa dan takut ketahuan oleh keluarga Tata kalau dirinya bersedih, Candra pun melangkahkan kaki pergi dan mengusap air matanya. Kini kehilangan telah menjelaskan kepadanya tentang sebuah arti memiliki.
SELESAI

Jakarta, November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar