Oleh Lia
Wahai
engkau yang di sana…
Lelaki
berkumis tipis…
Ingatkah
saat pertama kamu menemuiku ?
Ya,
aku tak ada rasa apapun terhadapmu saat itu…
Lelaki hebat nan sabarku…
Terima kasih telah memungut dan merawat patahan hatiku…
Terima kasih telah menjadi bahu atas keterpurukanku kala itu…
Lelaki
yang aku sayangi…
Terima
kasih telah sabar menunggu hingga pulihnya rasa sakitku…
Maafkan
hatiku yang sempat membatu berkali-kali menolakmu…
Terima
kasih telah setia dan menunjukkan keseriusanmu…
Lelaki
yang setiap hari mewarnai hari dan mimpiku…
Aku
bahagia bersamamu…
Jika
suatu hari nanti kamu mulai menyakitiku…
Ingatlah
bagaimana kamu berjuang dan berkorban untuk bersamaku…
Sayang…
Aku
tidak pernah memintamu untuk datang…
Meskipun
begitu, tetaplah bersamaku hingga anak-anak kita besar nanti…
Aku
ingin kita bersama hingga maut memisahkan…
Lelaki
yang selalu aku semogakan…
Jika
suatu hari nanti kamu merasa bosan…
Tolong
bacalah kembali tulisanku ini…
Aku
yang saat itu menangis dicurangi…
Kini
telah berhasil kau buat tersenyum…
Harapanku
besar terhadapmu…
Tolong
jangan hancurkan senyuman ini…
Kekasihku…
Tidak
selamanya rambutku hitam…
Tidak
selamanya gigiku utuh…
Tidak
selamanya kulitku halus dan kencang…
Dan
tidak selamanya pula badanku sehat…
Jika
nanti aku sudah mulai keriput dan sakit – sakitan…
Aku
mohon jangan tinggalkan aku…
Jangan
memilih mereka yang lebih muda dan cantik dariku…
Calon
Imam dan Ayah dari Anak – anakku…
Mari
saling menguatkan…
Mari
saling menjaga ikatan ini…
Semoga
hatimu tidak goyah atas godaan – godaan para PHO…
Sayaang…
Terima
kasih telah memilihku…
Aku
jauh dari kata sempurna…
Tapi
kehadiranmulah yang menyempurnakan hidupku…
Bahwa
kamu akan selalu menyayangi dan mencintaiku…
Jangan
sekalipun berfikir meninggalkanku…
Aapapun
alasannya…
Jangan
pernah pergi demi kebaikan…
Aku
tidak akan baik tanpamu…
Karena
kamu adalah bahagiaku…
Kamu
adalah mimpiku…
Jadi
bagaimana bisa aku baik – baik saja tanpa kamu ?
Sayang…
Jika
nanti penampilanku tak menarik…
Wajahku
mulai sayu…
Badanku
semakin lebar…
Dan kulitku
menjadi kusam…
Tolong
jangan tinggalkan aku…
Aku
rela badanku membengkak demi mengandung dan melahirkan anakmu…
Wajah
dan kulitku kusam karena tak sempat merawat diri…
Aku
sibuk merawatmu dan juga anak – anakmu…
Kalian
lebih utama dari apapun…
Sayaang…
Aku
ingin selalu mencintaimu setiap waktu…
Aku
ingin kamu tetap menjadikanku satu – satunya yang kau puja dan cinta…
Aku
ingin menua bersamamu hingga menemui akhir usia…
Lelakiku
yang selalu kujaga di sepanjang doa…
Aku memang
tak bisa sehebat Ayah dan Ibumu…
Tapi
aku ingin mengimbangi mereka…
Aku
ingin menjadi wanita pertama yang kau lihat
saat terbangun di pagi buta…
Dan
menjadi penenangmu dalam malam – malam yang panjang…
Ayah
dan Ibu dari lelakiku…
Terima
kasih telah melahirkan ia yang begitu mencintaiku…
Kalian
jangan khawatir…
Aku
tidak akan menyakiti buah hati kalian…
Aku
berjanji akan merawatnya penuh kasih…
Terima
kasih telah melahirkan lelaki seperti ia…
Ibu
dari lelakiku…
Andai
engkau belum tutup usia…
Ingin
sekali aku berkenalan denganmu…
Dan
berucap terima kasih atas lelaki yang engkau lahirkan…
Bu,
maafkan aku yang selalu merepotkan anakmu…
Maafkan
aku yang kadang diburu rindu buta…
Maafkan
aku yang masih sering menyakiti hati anakmu…
Maafkan
aku yang belum bisa sehebat Ibu…
Bu, ia
sudah tumbuh besar dan gagah…
Dia
tulus dan bertanggung jawab…
Aku
yakin Ibu pasti bangga memiliki anak seperti dia…
Ibu,
aku mencintai anakmu…
Izinkan
aku merawatnya…
Izinkan
aku menjadi pendamping hidupnya…
Ibu
jangan cemburu kepadaku…
Ia
tetap anakmu yang selalu menjadikanmu wanita pertama yang dicintainya…
Aku
hanya ingin hidup bersamanya…
Menyedikan
pelukan hangat di segala sedih dan lelahnya…
Menyayanginya…
Dan
menggantikan waktu yang hilang bersama Ibu…
Selamat
tanggal 20 sayang…
Aku
mencintaimu…
Jakarta, 20 September 2017



Tidak ada komentar:
Posting Komentar