Selasa, 05 September 2017

ARTI MEMILIKI (CERPEN)

Oleh Lia
 

Gemerlap kembang api mewarnai langit malam itu. Semua orang tampak bahagia menyambut pergantian tahun. Tetapi tidak dengan Ida. Gadis belia berusia 17 tahun itu sama sekali tak tertarik dengan kemeriahan itu. Ia lebih memilih memanjakan diri dengan tidur sepanjang malam. Begitulah Ida, dia selalu berbeda dengan anak – anak lain seusianya.
Pagi – pagi sekali Ida sudah terbangun. Ia mengambil gelang, kalung, ikat rambut, jam tangan serta anting – anting yang sudah tersedia di meja dan memakainya. Hari itu adalah hari pertama ia masuk sekolah pasca pindah rumah ke Bandung. Pukul 07.00 WIB Ida sudah sampai di sekolah barunya. Sambutan gurunya sangat baik, akan tetapi tidak dengan teman –temannya.
Ketika tiba jam istirahat, salah satu temannya datang menghampirinya. Namanya Tata, sang ketua kelas. Dia menatap aneh dan seolah ada rasa benci kepada Ida. Ida berusaha ramah dengan tersenyum kepada Tata. Akan tetapi senyumnya tak terbalas, justru malah mendapatkan serangan pedas dari mulut temannya. “Anak baru ! kamu mau sekolah atau melenong ? Aksesoris yang kamu pakai terlalu berlebihan, tidak pantas ke sekolah seperti itu !” begitu ucap Tata. Tanpa membalas komentar sang ketua kelas, Ida langsung berdiri meninggalkan Tata dengan muka tampak kesal.
Bel berbunyi tanda waktu pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar kelas girang. Ida adalah siswa terakhir yang meninggalkan kelas. Ketika hendak melangkahkan kaki keluar kelas, tak diduga ternyata Tata sudah berdiri di depan kelas. Dengan tatapan yang sama seperti jam istiahat tadi. “ Kanapa kamu menatapku seperti itu ? ada apa ? kamu mau mengejekku lagi ?” begitu pertanyaan yang dilontarkan Ida sebelum Tata bersuara.
Tata tak menjawab banyak. Ia hanya menatap pernak – pernik di badan Ida yang dirasa berlebihan olehnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Ida.
Keesokan harinya, siswa masuk seperti biasa. Akan tetapi Ida sama sekali tak kelihatan ujung rambutnya. Bahkan hingga guru mata pelajaran pun Ida belum masuk kelas. Dia terlambat. Ketika guru hendak memulai pelajaran pintu kelas ada yang mengetuk. Semua tampak tercengang melihat siapa yang mengetuk pintu. Seorang perempuan dengan dandanan seperti laki – laki. Dialah Ida. Siswa baru yang kemarin diejek oleh sang ketua kelas karena dandanannya yang telalu berlebihan. Hari ini ia tampak beda seratus persen, bahkan ia lebih luwes berpenampilan seperti itu. Tata yang juga menyaksikan penampilan Ida tampak kaget.
Usai mata pelajaran yang pertama, teman – teman Ida datang menghampirinya. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan teman barunya itu. Ida menjelaskan bahwa seperti itulah dirinya yang sebenarnya. Sesungguhnya sejak kecil Ida adalah tomboy dan tak suka bersolek. Dia berkata bahwa dirinya berdandan seperti saat ia pertama masuk sekolah adalah karena Ibunya. Ida dipaksa untuk berdandan layaknya perempuan. Ibunya khawatir dan takut. Oleh karena itu dipaksalah berdandan seperti itu. Ida mengatakan dirinya memang suka dan nyaman berdandan seperti apa adanya dirinya.
Sejak saat itu, Tata tak lagi mengejek Ida. Justru mereka sekarang menjadi teman akrab. Keduanya semakin akrab karena sama – sama berkecimpung di kegiatan olahraga. Hanya beda komunitas saja, Tata mengikuti ekskul (ekstrakurikuler) Basket sedang Ida Karate. Akan tetapi hal tersebut tak menjadi masalah karena sama – sama bidang olahraga dan saling bertemu.
Persahabatan Ida dan Tata semakin kuat. Tak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain. Rupanya kedekatan persahabatan mereka ada yang tidak suka. Reny, mantan kekasih Tata sepertinya cemburu melihat kedekatan itu. Reny yang juga tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler karate harus melihat keduanya bersama setiap harinya. Pernah Reny sengaja mencalonkan diri menjadi ketua ekskul hanya demi tidak mau kalah saing dengan Ida. Ida yang memang memiliki bakat di bidang karate sejak masa SD pun berhasil mengalahkan Reny dan menjadi ketua ekskul.
Meskipun dekat, Ida dan Tata tak meiliki perasaan cinta. Murni sayang seperti saudara keduanya sama – sama anak tunggal. Sesungguhnya Tata masih memiliki perasaan yang dalam terhadap Reny, akan tetapi Tata menyembunyikan hal itu dari Reny karena Tata ingin melihat perubahan dari sifat Reny yang kurang baik. Sedangkan Ida belum memiliki kekasih.
Suatu hari Ida pergi ke taman kota. Kali ini ia tidak bersama Tata karena Tata sedang ada latihan intensif untuk lomba. Ida terpaksa pergi sendiri karena harus menyelesaikan tugas penelitiannya. Ida menemui beberapa pengamen jalanan di setiap sudut taman kota itu. Akan tetapi setiap kali diminta untuk diwawancarai, satu per satu pengamen itu menolak dan pergi meninggalkan Ida. Sampai akhirnya ia menemukan seorang pengamen yang amat sangat mengesankan baginya. Tampak luwes sekali dalam bernyanyi, tak seperti pengamen – pengamen lain yang hanya asal keluar suara.
Ida menikmati setiap alunan nada yang dimainkan oleh pengamen itu hingga hampir lupa dengan tujuannya ke taman kota. Ida menghampiri pengamen yang telah mempesonanya itu. Agus Candra nama pengamen itu. Awalnya Candra menolak untuk diwawancarai, akan tetapi atas usahanya Ida berhasil mewawancarai Candra. Sejak saat itu Candra dan Ida sering bertemu dan bertukar pikiran. Mereka layaknya seperti orang yang sedang melakukan pendekatan.
Gemuruh penonton menghiasi suasana gymnasium. Perlombaan Basket antar sekolah telah tiba. Tata yang merupakan kapten dari tim basket sekolahnya sedang berlaga di lapangan. Teriakan dukungan tak lepas terdengar. Di kursi penonton tampak Ida ikut bersorak sorai menyemangati Tata dan Tim. Di sudut lain juga tampak Reny menyaksikan perlombaan itu.
Pluit panjang berbunyi tandai berakhirnya waktu. Perlombaan dimenangkan oleh Tim Basket sekolah Tata. Semua tampak bergembira. Ida yang tak kalah gembira berlari dari kursi penonton dan menghampiri sahabatnya yang sedang dalam kerumunan orang. Ida memeluk sahabatnya itu dan memberikan minum kepada Tata usai mengucapkan selamat. Reny yang menyaksikan hal itu langsung pergi meninggalkan gymnasium.
Penutupan perlombaan itu diisi dengan acara musik. Betapa kagetnya Ida begitu tahu siapa orang yang bernyanyi di sekolahnya itu. “Candra” begitu gumam Ida. Tata yang mendengar gumaman itu pun bertanya kepada sahabatnya. Akan tetapi Ida tak langsung menjawab, ia malah menarik tangan Tata dan berlari menuju balik panggung musik itu. Ida memanggil Candra dan memperkenalkannya dengan Tata. Awalnya Tata kaget mengetahui sahabatnya bergaul dengan pengamen jalanan. Akan tetapi, melihat Ida senang dan tak tertekan Tata pun ikut senang dan tak khawatir karena dirasanya Candra anak yang baik.
Waktu terus berjalan. Begitu pula dengan hubungan Ida dan Candra. Mereka semakin dekat dan mereka telah resmi menjadi pasangan kekasih. Tata yang menyaksikan kebahagiaan sahabatnya pun ikut berbahagia. Hampir 4 bulan sudah usia hubungan Ida dan Candra. Awalnya Candra sangat sayang dan peduli dengan Tata. Akan tetapi makin ke sini sikap Candra berubah drastis. Candra menjadi orang yang super cuek, susah dihubungi dan tidak peka.
Suatu hari Ida sudah berada pada puncak kegeramannya. Ia melontarkan banyak pertanyaan ditujukan ke Candra melalui chating. Betapa kagetnya Ida membaca jawaban dari kekasihnya itu. Candra meminta maaf kepada Ida dan dia meminta putus dengan Ida. Candra merasa tak pantas dengan Ida. Dirinya dan Ida berbeda jauh. Candra berfikir sekarang atau nanti pasti akan berakhir dengan tragis, jadi percuma diteruskan.
Ida menjerit dalam hati. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia benar – benar tak menyangka bahwa orang yang amat begitu dikasihinya bisa berubah menjadi orang yang sulit dipercaya. Sebelum berpacaran, Candra juga sempat memiliki pemikiran seperti itu. Akan tetapi pada saat itu ia tak patah semangat seperti sekarang ini. Entah apa yang terjadi hingga Candra bisa setega itu dengan Ida.
Dua hari berlari. Ida masih dalam kesedihannya. Dia pikir sedang mimpi buruk, tapi ternyata tidak. Ini nyata, Candra benar – benar telah meninggalkannya. Ida seperti kehilangan selera untuk melakukan apapun. Hanya bisa meratapi kesedihannya. Tata tak kuasa melihat kondisi sahabatnya. Ia mendekati sahabat karibnya itu dan mengatakan bahwa Candra sudah keluar dari tempat kerjanya dan di taman kota juga tidak terlihat wajahnya. Tata mencoba menenangkan Ida dan meminta untuk berhenti bersedih. “Mari kita fokus untuk ujian kelulusan sekolah Da, tak perlu kau fikirkan lagi tentang Candra. Jika memang kalian berjodoh pasti akan kembali”. Begitu bijak perkataan Tata.
Ida yang mendengar ucapan Tata semakin sedih. Ucapan itu mengingatkannya pada Candra. Sama persis, “kalau kita jodoh, pasti tak akan ke mana”. Dalam bathinnya Ida berkata “aku menyesal tak mencegahmu pergi kala itu. Seharusnya aku tak mengiyakan. Kenapa kamu setega itu mengucapkannya disaat aku sedang sakit gigi ? Dengarkan aku Can, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga denganku ataupun kamu. Iya aku akui di luar sana emang banyak sekali yang lebih segalanya dari kamu. Tapi apakah aku melihat kelebihan mereka ? Tidak. Aku memilih kamu, artinya aku siap dengan segala apa yang terjadi pada kamu. Jika benar kamu tidak bermaksud meninggalkanku, kenapa bisa berbicara begitu ? Sudahlah jangan melemah, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini ? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mengucapkan kata perpisahan ? mari bersama – sama saling mendukung dan menguatkan. Apa gunanya pasangan kalau tidak saling melengkapi ? Iya aku tahu jodoh memang tidak akan ke mana, tapi apakah kamu juga tahu bahwa tukang tikung ada di mana – mana ? Berjuang bersama itu lebih ringan. kamu tidak ingin berjuang bersamaku lagi untuk kita ? kamu ingin menyerah begitu saja dengan perjalanan ini ? Lalu mau dikemanakan mimpi – mimpi yang sudah direncanakan ? Kalau kamu lelah lihatlah ke belakang, ada aku yang akan selalu mendukungmu”.
Ida kembali dengan rutinitasnya. Ia dan Tata kini telah lulus sekolah. Mereka melanjutkan pendidikan di Jawa Tengah, tetapi tidak satu kampus. Tata kuliah kedokteran di salah satu universitas swasta sedang Ida kuliah jurusan keguruan di perguruan tinggi negeri dan  satu kampus dengan Reny, mantan kekasih Tata. Lagi – lagi mereka satu kelas karena kebetulan satu jurusan.
Ida yang telah lama mengatahui Reny tidak suka dengannya karena selalu bersama Tata kini mencoba mendekati Reny. Ia menjelaskan bahwa dirinya dan Tata hanyalah sahabat semata, tak lebih. Lama kelamaan Reny pun luluh dengan kebaikan yang diberikan oleh Ida kepadanya. Mereka kini juga menjadi teman baik, bukan saingan seperti dulu ketika SMA.
Akhir pekan akan ada pertandingan karate di kota Jawa Tengah. Berhubung sudah selesai skripsi dan hanya tinggal wisuda di bulan depan, Ida dan Reny ikut dalam kompetisi itu. Sehari sebelum perlombaan dimulai, telepon genggam Ida berbunyi. Dari Tata. Tata mengabarkan bahwa dirinya besok siang akan kembali ke Jawa Tengah setelah praktek dari Singapura. Ia menawarkan oleh – oleh kepada sahabatnya. Ida tak meminta apapun kepada Tata, ia hanya berkata bahwa kehadirannya di kompetisi yang akan diikutinya besok lebih berharga dari sebuah oleh – oleh. Tata pun berjanji akan datang ke hari kompetisinya.
Pagi itu telah sampai di Jawa tengah. Ketika hendak melanjutkan perjalanan menuju kos, ia seperti melihat seseorang yang tak asing baginya. Orang itu berada di kerumunan orang banyak. Candra, ya itu Candra. “Candra! begitu teriak Tata. Orang yang dikiranya Candra itu pun menoleh, dan benar itu adalah Candra.
Candra sudah sukses. Ia kini menjadi penyanyi terkenal. Di sela kesibukannya, Tata mengajak Candra makan siang sambil bercakap – cakap menanyakan kabar. Keasyikan berbincang, Tata hampir terlupa sesuatu. Tata mengajak Candra untuk melihat Ida berlaga di lapangan. Candra yang masih sangat sayang dengan Ida mengiyakan ajakan Candra. Ia meminta managernya untuk menunda jadwal wawancaranya menjadi malam hari.
Lapangan sudah sangat padat dipenuhi penonton. Ida dan Reny bersiap – siap untuk berjuang menjadi sang pemenang. Sembari menunggu giliran, mata Ida memandang barisan penonton mencari – cari sahabat karibnya. Tibalah giliran Ida dan Reny. Keduanya masuk dalam semi final. Akan tetapi Reny gagal mencapai tahap grand final dan hanya mendapatkan juara harapan 2. Reny memeluk erat Ida. Ia merasa bersalah karena tak bisa masuk ke babak final. Ida yang tak tega melihat teman dekatnya menangis pun mencoba menenangkan dan berjanji untuk memenangkan perlombaan.
Tiba saatnya Ida melawan musuhnya di perebutan juara 1 lomba karate. Ida sudah memasuki area. Matanya kembali mencari – cari sesuatu, akan tetapi yang dicarinya tak ada. Ia tampak kecewa. Tiba – tiba ada yang berteriak untuknya “Ida ! jangan patah semangat, kamu pasti bisa! aku bawakan hadiah istimewa untukmu”. Tata, ya itu suara Tata. Ia datang disaat yang sangat tepat. Tata sengaja meminta Candra untuk tak menampakkan diri dahulu agar kehadiannya bisa menjadi kejutan dan hadiah istimewa untuk Ida.
Waktu tinggal 10 detik lagi. Persaingan semakin panas. Ida dan lawannya memiliki skor yang tidak beda jauh. Hanya selisih 1 angka, unggul di Ida. Meskipun hanya 1 angka Ida tetap tidak akan membiarkan musuhnya mendapatkan poin lagi. Di detik – detik terakhir waktu, Ida dan musuhnya sama – sama mengambil ancang – ancang untuk menyerang. Plaaakkk ! suara punggung kaki Ida menyentuh pipi lawannya.
Perlombaan dimenangkan oleh Ida. Semua bersorak. Akan tetapi ada yang aneh dengan sang juara. Ia tak bergerak sama sekali. Ia dan lawannya sama – sama menyerang menggunakan tendangan. Ida ke pipi dan lawannya ke dada. Akan tetapi lebih dulu Ida sehingga ia yang menjadi pemenang. Melihat keanehan itu wasit pun mendekat untuk melihat kondisi Ida. Wajah Ida tampak pucat, sepertinya terjadi sesuatu padanya. Rupanya tendangan ke dada Ida penyebabnya. Semua panik dan Ida dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Tata, Candra, Reny  dan teman – teman yang lain serta dosen dan orang tua Ida menunggu di luar ruangan Ida diperiksa. Mereka semua berharap cemas. Memanjatkan doa untuk Ida. Kreeek, pintu ruangan terbuka pelan. Ida sudah selesai diperiksa. Semua berdiri, mengharapkan berita yang baik. Dokter hanya menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah kata. Kemudia berjalan pergi. Beberapa detik setelah itu, langkah sang dokter disusul oleh para perawat yang mendorong sebuah ranjang yang berisi orang tertutup tubuhnya.
Semua kaget dan tak percaya melihat hal itu. Orang tua Ida berlari mendekati perawat dan membuka penutup badan. Ida ia terbaring pucat dan kaku, nyawanya tak tertolong. Tendangan di dadanya telah menghentikan nafasnya. Semua yang berada di situ menangis histeris termasuk orang tua, dan para sahabat Ida. Orang yang selama ini dikenal baik dan tidak sombong itu telah menghadap Tuhannya.
Candra menangis di atas makan yang masih merah itu. Ia tak menyangka jika Ida harus pergi secepat itu. Ia pun juga menyesali perbuatannya di masa lalu yang tega meninggalkan dan menyakiti hati Ida. Disaat dirinya telah sukses dan memiliki nyali untuk berani kembali, justru malah Ida yang pergi. Bahkan bukan sekedar pergi untuk mengejar mimpi belaka, tetapi pergi selama – lamanya dari kehidupan dunia. Candra benar – benar menyesali perbuatannya. Tata dan Reny yang menyaksikan hal itu pun angkat bicara dan membujuk Candra untuk pulang karena hari sudah larut malam dan akan hujan. Setelah dibujuk – bujuk, akhirnya Candra mengikuti perkataan Tata.
Seminggu setelah kematian Ida, Candra mendatangi rumah Tata. Ia berpamitan pergi ke Malaysia karena telah menandatangani kontrak kerja di sana selama 1 tahun. Awalnya Candra tak ingin menerima kontrak kerja itu karena ingin berada di negeri sendiri sembari menjemput jodohnya, Ida. Berhubung Ida sudah tenang, Candra merasa harus pergi sejenak agar tak berlarut dalam kesedihan.
Tata dan keluarganya melepas kepergian Candra. Sebelum berpisah, Tata memberikan sebuah undangan dan berbisik ke telinga Candra “kamu harus datang ke pertunanganku dan Reny bulan depan”. Candra mengangguk tersenyum dan memberikan ucapan selamat serta doa kepada Tata. Bathin Candra berteriak “harusnya aku dan Ida juga bertunangan seperti mereka”. Karena tak kuasa dan takut ketahuan oleh keluarga Tata kalau dirinya bersedih, Candra pun melangkahkan kaki pergi dan mengusap air matanya. Kini kehilangan telah menjelaskan kepadanya tentang sebuah arti memiliki.
SELESAI

Jakarta, November 2016

PERGILAH

Oleh Lia
 
Suatu hari di masa lalu....
Aku pernah bertahan setengah waras untuk seseorang....
Ia selalu menjadi alasanku tersenyum meski akhirnya membuat tangis...
Ia mematahkan hatiku lalu meninggalkan pergi...
Kemudian datang lagi dan mematahkan lagi...
Hingga aku lelah dan menyerah...
Aku menerimamu kembali bukan berarti memberimu ruang untuk menyakitiku lagi...
Maaf, aku sudah tidak bersedia menjadi rumah bagimu...
Sekarang pergilah dan jangan kembali...








Jakarta, 13 April 2017

Rabu, 28 Desember 2016

TERUNTUKMU : WANITA KEDUA PILIHAN KEKASIHKU

Hai cantik !
Apakah kamu bahagia dengan posisimu ?
Syukurlah jika iya...

Wanita kedua pilihan kekasihku...
Bolehkah aku berbicara sesuatu padamu ?
Bagaimana rasanya mengambil apa yang telah aku jaga dan rawat selama ini ?Apa sekarang kamu bahagia ?

Wanita cantik yang sedang berbahagia...
Bolehkah aku meminta sesuatu padamu ?
Tolong jaga dan rawat yang sekarang menjadi bahagiamu...
Janganlah engkau sakiti seperti yang ia lakukan padaku...

Bisakah engkau berjanji kepadaku ?
Wanita baru idaman kekasihku...
Maafkan aku yang masih mencintainya...
Aku terlalu menyayanginya...
Bersediakah kau mencintainya lebih dariku ?

Wanita cantik yang telah dipilih kekasihku...
Sudikah kau menemuiku ?
Kau tak perlu menjelaskan apapun kepadaku...
Cukup peluk saja aku...

Wanita cantik yang mengambil alih bahagiaku...
Selamat ya sayang...
Kamu mampu membuatnya mengkhianatiku...
Berjanjilah menjadi wanita yang setia...
Karena Cinta terlalu suci untuk dipermainkan...

Wanita cantik yang telah membuatnya meninggalkanku...
Terima kasih telah menunjukkan siapa dia kepadaku...
Berbahagialah dengan cintamu...


Jakarta, 28 Desember 2016

Selasa, 05 Agustus 2014

Angan dan Fikiranku

Aku termenung sendiri...
Dibalik jendela kamarku...
Menatap ribuan bintang...
Gemerlap dengan indahnya...

Kucoba pejamkan mata...
Menelusuri dunia imajinasiku...
Tampak olehku sosok bayangmu...
Tersenyum manis untukku...

Senyuman manis itu...
Mampu mendamaikan hatiku...
Namun pandanganku menjadi buram...
Dan bayanganmu lenyap bagai batu es yang mencair...

Perlahan kucoba membuka mata...
Menatap kembali gemerlapnya bintang...
Fikirku kau seperti bintang itu...
Dikagumi keindahannya dan tak dapat dimiliki...

Biarlah waktu terus berputar...
Ku mengagumimu penuh rasa sabar...
Saat mata ini terpejam...
Saat rasa ini padam...
Dan saat rasa ini terpendam...
Mungkin kau baru menyadari...
Pernah ada aku di sini mengagumimu...



Senin, 14 Juli 2014

KEMAS UI


Keluarga Mahasiswa Sriwijaya Universitas Indonesia

         Mereka adalah keluarga saya selama kuliah jauh dari orangtua. Sebuah Paguyuban dari Provinsi Sumatera Selatan Meskipun saya hanya sendiri tanpa teman, tanpa senior dan tanpa junior dari Belitang OKUT, tetapi mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka tidak membeda-bedakan antar sesama anggota Kemas. Saat awal-awal menjadi Maba, saya pernah ikut berkumpul bersama Paguyuban Kemas UI sekitar 2x di Asrama dan setelah itu sampai UAS saya tidak ikut lagi karena banyak sekali 
 kegiatan Maba yang harus saya ikuti.

Memasuki awal semester genap, saya mencoba menyempatkan diri untuk bisa berkumpul bersama mereka lagi. Tidak berubah, suasananya tetap menyenangkan seperti pertama kali saya dikenalkan dengan paguyuban dari Sumsel itu dulu. Mereka begitu ceria, lucu dan menggembirakan. Suasana seperti itulah yang mampu membuat saya rindu dan melupakan sejenak semua masalah tugas-tugas kuliah. Saya merasa sangat bahagia jika berada di antara mereka. Saya                                                               sangat merasa bersalah dan menyesal telah melewatkan                                                                  kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh Kemas. Jika saja  

waktu dapat dikembalikan, aku pasti akan mengikuti seluruh kegiatan itu. Sejak sebelum Kemas Plesiran 2014, saya selalu mencoba menyempatkan dan meluangkan waktu untuk bisa bercengkerama bersama Kemas UI kembali. Meskipun saya belum sepenuhnya akrtab dan belum tahu seluruhnya nama-nama dari anggota Kemas, tapi saya yakin kalau mereka semua adalah saudara-saudara Paguyubanku yang sangat baik dan ramah. Ada satu kalimat yang selalu membuat saya nyaman berada di tengah-tengah mereka yaitu kalimat "kita ini bukan sebuah organisasi yang selalu mencari provit, tapi kita ini adalah sebuah paguyuban yang selalu lebih mengutamakan kekeluargaan". Saya sangat senang memiliki teman-teman dan senior paguyuban sebaik, seramah, sepintar dan selucu mereka. Saya berharap suasana dan kekeluargaan yang tercipta di Kemas UI tidak pernah pudar dan selalu seperti ini, Aamiin. Sayaang Kemas selalu :)

   

Rabu, 02 Juli 2014

D3LT2

 
SAHABAT SMA      
        
         Itu adalah gambar saya dan para sahabat terbaik. Saya mulai dekat dengan mereka setelah satu kelas ketika kelas XII.Sebenarnya kami sudah mengenal satu tahun yang lalu karena sebelumnya kami juga satu kelas di kelas XI.IPS4, namun keakraban kami mulai tumbuh dan berkembang saat disatukan kembali di dalam kelas XII.IPS5.Kami duduk sebaris saat itu. Bangku paling depan diduduki Tutik dengan Devika, dibelakang mereka diduduki Tria dengan Dhayu dan dibelakangnya diduduki oleh saya sendiri (Lia) dengan Desti.Sejak saat itu kami sering melewatkan hari bersama seperti ke kantin bareng, shalat dhuhur bareng, ganti baju olahraga bareng bahkan ngopy artikel 1 lembar pun yang ke tempat photocopy-annya ber-6. Sejak bertemu mereka saya merasa memiliki teman karena sebelumnya selama SMA saya belum pernah memiliki teman dekat seperti mereka. Mereka selalu membuat saya gembira, keunikan yang ada pada diri mereka memberikan nilai tambahan tersendiri pada persahabatan kami. 

          Saya sangat senang memiliki sahabat seperti mereka. Awalnya saya tidak menyangka bisa dekat dengan mereka karena di kelas sebelumnya mereka adalah orang-orang yang menurut saya memiliki kelebihan yang lebih daripada saya. Pertama Tiara Dhayu Prameswari, sebelumnya saya tidak pernah menyangka bisa bersahabat dengan orang sepintar dan secantik Dhayu. Yang Kedua Desti Sliani, awalnya saya mengenal dia karena 1 ekskul dan 1 organisasi dengannya.Sebelumnya saya belum pernah membayangkan bersahabat dan sebangku dengan orang yang bersuara merdu dan cantik seperti ndes. Kemudian Tria Oktariani, saya juga tidak menyangka bisa bersahabat dengannya yang awalnya namanya pun saya tidak tahu dan saya hanya hanya tahu kalau dia adalah anak Pramuka di SMA N 1 Belitang.Lalu Tutik Alawiyah, saya pun juga belum pernah membayangkan bisa bersahabat dengan orang secantik dan sepolos dia. Dan terakhir Devika Putri Kistiani yang awalnya hanya mengenalnya lewat OSIS sekarang malah jadi sahabatan.  

       Sekarang kami berpisah untuk mengejar cita-cita. Kami tidak disatukan di 1 Universitas, kami semua berpisah kecuali Dhayu dan Tria. Saat ini Dhayu kuliah jurusan Ilmu pemerintahan di Universitas Lampung ( UNILA ),Tria Ilmu Perpajakan di Universitas Lampung (UNILA), Devika Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang, Tutik Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Raden Fattah Palembang, Desti Bimbingan dan Konseling di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang dan saya Sastra Daerah Untuk Sastra Jawa di Universitas Indonesia (UI) Depok. Meskipun terpisah, tapi komunikasi kami tidak putus. Saya akui setelah kami kuliah sangat sulit sekali mencari waktu untuk berkumpul karena libur semester kami pun juga berbeda. Saya sering merindukan mereka, merindukan canda tawa mereka, merindukan semua hari-hari yang sudah kami lewati bersama.Saya berharap Persahabatan ini bisa tetap terjaga selamanya. :-)

Kamis, 20 Februari 2014

Sidomakmur

Sidomakmur ?
Apa itu ?
Berbicara Sidomakmur mungkin kebanyakan dari teman-teman belum ada yang tahu apa itu Sidomakmur.
Sidomakmur adalah nama Desa yang terletak di antara Desa Sidogede, Kuthosari, Karang Sari dan Tanjung Raya. Desa Sidomakmur terletak di Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur Sumatera Selatan.
Penduduk Desa ini seluruhnya adalah penduduk yang berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur yang transmigrasi ke Pulau Sumatera pada tahun 1952.
Desa ini diberi nama Sidomakmur supaya penduduknya makmur seperti namanya yang berarti Jadi Makmur.

Lurah desa ini adalah:
1. Bapak Monjer
2. Bapak Nasir,
3. Bapak Pardi,
4. Bapak Maimin,
5. Bapak Imron,
6. Bapak Suwandi, dan
7. Bapak Ludin
Desa Sidomakmur terdiri dari 8 RT dan 3 RW.
Jika dilihat sekarang, Desa ini tampak sudah lebih maju dari 62 tahun silam yang masih hutan belantara.

Fasilitas yang ada di Desa Sidomakmur :
1. Jalan Raya
2. Lapangan Bola
3. Masjid Nurul Huda
4. Mushalla (5)
5. Balai Desa
6. Puskesmas
7. Saluran Irigasi
8. Sungai-sungai panjang peninggalan pemerintah Jepang
9. Taman Kanak-Kanak
10.Sekolah Dasar Negeri
11.TKA-TPA
12.Gereja ST.Yusup
13.TPU
Dan lain-lain.

Di Desa Sidomakmur terdapat mini desa yang bergabung dengan Desa Sidomakmur. Disebut mini karena hanya terdiri dari kurang lebih 10-15 KK.Nama Desa mini itu adalah Karang Unju, kebanyakan dari mereka adalah penduduk yang berasal dari Desa Tanjung Raya.
Desa Sidomakmur termasuk desa yang rukun, hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya dua tempat ibadah yang hanya selisih satu rumah yaitu Masjid NH Sidomakmur dan Gereja STY Sidomakmur.



Demikian info yang dapat saya bagikan kepada teman-teman sekalian apabila ada kurang lebihnya saya minta maaf dan apabila ada yang tahu lebih jauh tentang apa yang saya bagi sudi kiranya teman-teman untuk membantu saya melengkapi informasi ini, terima kasih.