Gemerlap kembang api mewarnai
langit malam itu. Semua orang tampak bahagia menyambut pergantian tahun. Tetapi
tidak dengan Ida. Gadis belia berusia 17 tahun itu sama sekali tak tertarik
dengan kemeriahan itu. Ia lebih memilih memanjakan diri dengan tidur sepanjang
malam. Begitulah Ida, dia selalu berbeda dengan anak – anak lain seusianya.
Pagi – pagi sekali Ida sudah
terbangun. Ia mengambil gelang, kalung, ikat rambut, jam tangan serta anting –
anting yang sudah tersedia di meja dan memakainya. Hari itu adalah hari pertama
ia masuk sekolah pasca pindah rumah ke Bandung. Pukul 07.00 WIB Ida sudah
sampai di sekolah barunya. Sambutan gurunya sangat baik, akan tetapi tidak
dengan teman –temannya.
Ketika tiba jam istirahat, salah
satu temannya datang menghampirinya. Namanya Tata, sang ketua kelas. Dia
menatap aneh dan seolah ada rasa benci kepada Ida. Ida berusaha ramah dengan tersenyum
kepada Tata. Akan tetapi senyumnya tak terbalas, justru malah mendapatkan
serangan pedas dari mulut temannya. “Anak baru ! kamu mau sekolah atau melenong
? Aksesoris yang kamu pakai terlalu berlebihan, tidak pantas ke sekolah seperti
itu !” begitu ucap Tata. Tanpa membalas komentar sang ketua kelas, Ida langsung
berdiri meninggalkan Tata dengan muka tampak kesal.
Bel berbunyi tanda waktu
pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar kelas girang. Ida adalah
siswa terakhir yang meninggalkan kelas. Ketika hendak melangkahkan kaki keluar
kelas, tak diduga ternyata Tata sudah berdiri di depan kelas. Dengan tatapan
yang sama seperti jam istiahat tadi. “ Kanapa kamu menatapku seperti itu ? ada
apa ? kamu mau mengejekku lagi ?” begitu pertanyaan yang dilontarkan Ida
sebelum Tata bersuara.
Tata tak menjawab banyak. Ia
hanya menatap pernak – pernik di badan Ida yang dirasa berlebihan olehnya.
Setelah itu ia pergi meninggalkan Ida.
Keesokan harinya, siswa masuk
seperti biasa. Akan tetapi Ida sama sekali tak kelihatan ujung rambutnya.
Bahkan hingga guru mata pelajaran pun Ida belum masuk kelas. Dia terlambat.
Ketika guru hendak memulai pelajaran pintu kelas ada yang mengetuk. Semua
tampak tercengang melihat siapa yang mengetuk pintu. Seorang perempuan dengan
dandanan seperti laki – laki. Dialah Ida. Siswa baru yang kemarin diejek oleh
sang ketua kelas karena dandanannya yang telalu berlebihan. Hari ini ia tampak
beda seratus persen, bahkan ia lebih luwes berpenampilan seperti itu. Tata yang
juga menyaksikan penampilan Ida tampak kaget.
Usai mata pelajaran yang pertama,
teman – teman Ida datang menghampirinya. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya
terjadi dengan teman barunya itu. Ida menjelaskan bahwa seperti itulah dirinya
yang sebenarnya. Sesungguhnya sejak kecil Ida adalah tomboy dan tak suka
bersolek. Dia berkata bahwa dirinya berdandan seperti saat ia pertama masuk
sekolah adalah karena Ibunya. Ida dipaksa untuk berdandan layaknya perempuan.
Ibunya khawatir dan takut. Oleh karena itu dipaksalah berdandan seperti itu.
Ida mengatakan dirinya memang suka dan nyaman berdandan seperti apa adanya
dirinya.
Sejak saat itu, Tata tak lagi
mengejek Ida. Justru mereka sekarang menjadi teman akrab. Keduanya semakin
akrab karena sama – sama berkecimpung di kegiatan olahraga. Hanya beda
komunitas saja, Tata mengikuti ekskul (ekstrakurikuler) Basket sedang Ida
Karate. Akan tetapi hal tersebut tak menjadi masalah karena sama – sama bidang
olahraga dan saling bertemu.
Persahabatan Ida dan Tata semakin
kuat. Tak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain. Rupanya kedekatan
persahabatan mereka ada yang tidak suka. Reny, mantan kekasih Tata sepertinya
cemburu melihat kedekatan itu. Reny yang juga tergabung dalam kegiatan
ekstrakurikuler karate harus melihat keduanya bersama setiap harinya. Pernah
Reny sengaja mencalonkan diri menjadi ketua ekskul hanya demi tidak mau kalah
saing dengan Ida. Ida yang memang memiliki bakat di bidang karate sejak masa SD
pun berhasil mengalahkan Reny dan menjadi ketua ekskul.
Meskipun dekat, Ida dan Tata tak
meiliki perasaan cinta. Murni sayang seperti saudara keduanya sama – sama anak
tunggal. Sesungguhnya Tata masih memiliki perasaan yang dalam terhadap Reny,
akan tetapi Tata menyembunyikan hal itu dari Reny karena Tata ingin melihat
perubahan dari sifat Reny yang kurang baik. Sedangkan Ida belum memiliki
kekasih.
Suatu hari Ida pergi ke taman
kota. Kali ini ia tidak bersama Tata karena Tata sedang ada latihan intensif
untuk lomba. Ida terpaksa pergi sendiri karena harus menyelesaikan tugas penelitiannya.
Ida menemui beberapa pengamen jalanan di setiap sudut taman kota itu. Akan
tetapi setiap kali diminta untuk diwawancarai, satu per satu pengamen itu
menolak dan pergi meninggalkan Ida. Sampai akhirnya ia menemukan seorang
pengamen yang amat sangat mengesankan baginya. Tampak luwes sekali dalam
bernyanyi, tak seperti pengamen – pengamen lain yang hanya asal keluar suara.
Ida menikmati setiap alunan nada
yang dimainkan oleh pengamen itu hingga hampir lupa dengan tujuannya ke taman
kota. Ida menghampiri pengamen yang telah mempesonanya itu. Agus Candra nama
pengamen itu. Awalnya Candra menolak untuk diwawancarai, akan tetapi atas
usahanya Ida berhasil mewawancarai Candra. Sejak saat itu Candra dan Ida sering
bertemu dan bertukar pikiran. Mereka layaknya seperti orang yang sedang
melakukan pendekatan.
Gemuruh penonton menghiasi
suasana gymnasium. Perlombaan Basket antar sekolah telah tiba. Tata yang
merupakan kapten dari tim basket sekolahnya sedang berlaga di lapangan.
Teriakan dukungan tak lepas terdengar. Di kursi penonton tampak Ida ikut
bersorak sorai menyemangati Tata dan Tim. Di sudut lain juga tampak Reny
menyaksikan perlombaan itu.
Pluit panjang berbunyi tandai
berakhirnya waktu. Perlombaan dimenangkan oleh Tim Basket sekolah Tata. Semua
tampak bergembira. Ida yang tak kalah gembira berlari dari kursi penonton dan
menghampiri sahabatnya yang sedang dalam kerumunan orang. Ida memeluk
sahabatnya itu dan memberikan minum kepada Tata usai mengucapkan selamat. Reny
yang menyaksikan hal itu langsung pergi meninggalkan gymnasium.
Penutupan perlombaan itu diisi
dengan acara musik. Betapa kagetnya Ida begitu tahu siapa orang yang bernyanyi
di sekolahnya itu. “Candra” begitu gumam Ida. Tata yang mendengar gumaman itu
pun bertanya kepada sahabatnya. Akan tetapi Ida tak langsung menjawab, ia malah
menarik tangan Tata dan berlari menuju balik panggung musik itu. Ida memanggil
Candra dan memperkenalkannya dengan Tata. Awalnya Tata kaget mengetahui
sahabatnya bergaul dengan pengamen jalanan. Akan tetapi, melihat Ida senang dan
tak tertekan Tata pun ikut senang dan tak khawatir karena dirasanya Candra anak
yang baik.
Waktu terus berjalan. Begitu pula
dengan hubungan Ida dan Candra. Mereka semakin dekat dan mereka telah resmi
menjadi pasangan kekasih. Tata yang menyaksikan kebahagiaan sahabatnya pun ikut
berbahagia. Hampir 4 bulan sudah usia hubungan Ida dan Candra. Awalnya Candra
sangat sayang dan peduli dengan Tata. Akan tetapi makin ke sini sikap Candra
berubah drastis. Candra menjadi orang yang super cuek, susah dihubungi dan
tidak peka.
Suatu hari Ida sudah berada pada
puncak kegeramannya. Ia melontarkan banyak pertanyaan ditujukan ke Candra
melalui chating. Betapa kagetnya Ida membaca jawaban dari kekasihnya itu.
Candra meminta maaf kepada Ida dan dia meminta putus dengan Ida. Candra merasa
tak pantas dengan Ida. Dirinya dan Ida berbeda jauh. Candra berfikir sekarang
atau nanti pasti akan berakhir dengan tragis, jadi percuma diteruskan.
Ida menjerit dalam hati. Ia tak
kuasa menahan air matanya. Ia benar – benar tak menyangka bahwa orang yang amat
begitu dikasihinya bisa berubah menjadi orang yang sulit dipercaya. Sebelum
berpacaran, Candra juga sempat memiliki pemikiran seperti itu. Akan tetapi pada
saat itu ia tak patah semangat seperti sekarang ini. Entah apa yang terjadi
hingga Candra bisa setega itu dengan Ida.
Dua hari berlari. Ida masih dalam
kesedihannya. Dia pikir sedang mimpi buruk, tapi ternyata tidak. Ini nyata,
Candra benar – benar telah meninggalkannya. Ida seperti kehilangan selera untuk
melakukan apapun. Hanya bisa meratapi kesedihannya. Tata tak kuasa melihat
kondisi sahabatnya. Ia mendekati sahabat karibnya itu dan mengatakan bahwa
Candra sudah keluar dari tempat kerjanya dan di taman kota juga tidak terlihat
wajahnya. Tata mencoba menenangkan Ida dan meminta untuk berhenti bersedih.
“Mari kita fokus untuk ujian kelulusan sekolah Da, tak perlu kau fikirkan lagi
tentang Candra. Jika memang kalian berjodoh pasti akan kembali”. Begitu bijak
perkataan Tata.
Ida yang mendengar ucapan Tata
semakin sedih. Ucapan itu mengingatkannya pada Candra. Sama persis, “kalau kita
jodoh, pasti tak akan ke mana”. Dalam bathinnya Ida berkata “aku menyesal tak
mencegahmu pergi kala itu. Seharusnya aku tak mengiyakan. Kenapa kamu setega
itu mengucapkannya disaat aku sedang sakit gigi ? Dengarkan aku Can, di dunia
ini tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga denganku ataupun kamu. Iya aku
akui di luar sana emang banyak sekali yang lebih segalanya dari kamu. Tapi
apakah aku melihat kelebihan mereka ? Tidak. Aku memilih kamu, artinya aku siap
dengan segala apa yang terjadi pada kamu. Jika benar kamu tidak bermaksud
meninggalkanku, kenapa bisa berbicara begitu ? Sudahlah jangan melemah,
bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini ? Bukankah kita sudah
berjanji untuk tidak mengucapkan kata perpisahan ? mari bersama – sama saling
mendukung dan menguatkan. Apa gunanya pasangan kalau tidak saling melengkapi ?
Iya aku tahu jodoh memang tidak akan ke mana, tapi apakah kamu juga tahu bahwa
tukang tikung ada di mana – mana ? Berjuang bersama itu lebih ringan. kamu
tidak ingin berjuang bersamaku lagi untuk kita ? kamu ingin menyerah begitu
saja dengan perjalanan ini ? Lalu mau dikemanakan mimpi – mimpi yang sudah
direncanakan ? Kalau kamu lelah lihatlah ke belakang, ada aku yang akan selalu
mendukungmu”.
Ida kembali dengan rutinitasnya.
Ia dan Tata kini telah lulus sekolah. Mereka melanjutkan pendidikan di Jawa
Tengah, tetapi tidak satu kampus. Tata kuliah kedokteran di salah satu
universitas swasta sedang Ida kuliah jurusan keguruan di perguruan tinggi
negeri dan satu kampus dengan Reny,
mantan kekasih Tata. Lagi – lagi mereka satu kelas karena kebetulan satu
jurusan.
Ida yang telah lama mengatahui
Reny tidak suka dengannya karena selalu bersama Tata kini mencoba mendekati
Reny. Ia menjelaskan bahwa dirinya dan Tata hanyalah sahabat semata, tak lebih.
Lama kelamaan Reny pun luluh dengan kebaikan yang diberikan oleh Ida kepadanya.
Mereka kini juga menjadi teman baik, bukan saingan seperti dulu ketika SMA.
Akhir pekan akan ada pertandingan
karate di kota Jawa Tengah. Berhubung sudah selesai skripsi dan hanya tinggal
wisuda di bulan depan, Ida dan Reny ikut dalam kompetisi itu. Sehari sebelum
perlombaan dimulai, telepon genggam Ida berbunyi. Dari Tata. Tata mengabarkan
bahwa dirinya besok siang akan kembali ke Jawa Tengah setelah praktek dari
Singapura. Ia menawarkan oleh – oleh kepada sahabatnya. Ida tak meminta apapun
kepada Tata, ia hanya berkata bahwa kehadirannya di kompetisi yang akan
diikutinya besok lebih berharga dari sebuah oleh – oleh. Tata pun berjanji akan
datang ke hari kompetisinya.
Pagi itu telah sampai di Jawa
tengah. Ketika hendak melanjutkan perjalanan menuju kos, ia seperti melihat
seseorang yang tak asing baginya. Orang itu berada di kerumunan orang banyak. Candra,
ya itu Candra. “Candra! begitu teriak Tata. Orang yang dikiranya Candra itu pun
menoleh, dan benar itu adalah Candra.
Candra sudah sukses. Ia kini
menjadi penyanyi terkenal. Di sela kesibukannya, Tata mengajak Candra makan
siang sambil bercakap – cakap menanyakan kabar. Keasyikan berbincang, Tata
hampir terlupa sesuatu. Tata mengajak Candra untuk melihat Ida berlaga di
lapangan. Candra yang masih sangat sayang dengan Ida mengiyakan ajakan Candra.
Ia meminta managernya untuk menunda jadwal wawancaranya menjadi malam hari.
Lapangan sudah sangat padat
dipenuhi penonton. Ida dan Reny bersiap – siap untuk berjuang menjadi sang
pemenang. Sembari menunggu giliran, mata Ida memandang barisan penonton mencari
– cari sahabat karibnya. Tibalah giliran Ida dan Reny. Keduanya masuk dalam
semi final. Akan tetapi Reny gagal mencapai tahap grand final dan hanya
mendapatkan juara harapan 2. Reny memeluk erat Ida. Ia merasa bersalah karena
tak bisa masuk ke babak final. Ida yang tak tega melihat teman dekatnya
menangis pun mencoba menenangkan dan berjanji untuk memenangkan perlombaan.
Tiba saatnya Ida melawan musuhnya
di perebutan juara 1 lomba karate. Ida sudah memasuki area. Matanya kembali
mencari – cari sesuatu, akan tetapi yang dicarinya tak ada. Ia tampak kecewa.
Tiba – tiba ada yang berteriak untuknya “Ida ! jangan patah semangat, kamu
pasti bisa! aku bawakan hadiah istimewa untukmu”. Tata, ya itu suara Tata. Ia
datang disaat yang sangat tepat. Tata sengaja meminta Candra untuk tak
menampakkan diri dahulu agar kehadiannya bisa menjadi kejutan dan hadiah
istimewa untuk Ida.
Waktu tinggal 10 detik lagi.
Persaingan semakin panas. Ida dan lawannya memiliki skor yang tidak beda jauh.
Hanya selisih 1 angka, unggul di Ida. Meskipun hanya 1 angka Ida tetap tidak
akan membiarkan musuhnya mendapatkan poin lagi. Di detik – detik terakhir
waktu, Ida dan musuhnya sama – sama mengambil ancang – ancang untuk menyerang.
Plaaakkk ! suara punggung kaki Ida menyentuh pipi lawannya.
Perlombaan dimenangkan oleh Ida.
Semua bersorak. Akan tetapi ada yang aneh dengan sang juara. Ia tak bergerak
sama sekali. Ia dan lawannya sama – sama menyerang menggunakan tendangan. Ida
ke pipi dan lawannya ke dada. Akan tetapi lebih dulu Ida sehingga ia yang
menjadi pemenang. Melihat keanehan itu wasit pun mendekat untuk melihat kondisi
Ida. Wajah Ida tampak pucat, sepertinya terjadi sesuatu padanya. Rupanya
tendangan ke dada Ida penyebabnya. Semua panik dan Ida dilarikan ke rumah sakit
terdekat.
Tata, Candra, Reny dan teman – teman yang lain serta dosen dan
orang tua Ida menunggu di luar ruangan Ida diperiksa. Mereka semua berharap
cemas. Memanjatkan doa untuk Ida. Kreeek, pintu ruangan terbuka pelan. Ida
sudah selesai diperiksa. Semua berdiri, mengharapkan berita yang baik. Dokter hanya
menggelengkan kepala tanpa berkata sepatah kata. Kemudia berjalan pergi.
Beberapa detik setelah itu, langkah sang dokter disusul oleh para perawat yang
mendorong sebuah ranjang yang berisi orang tertutup tubuhnya.
Semua kaget dan tak percaya
melihat hal itu. Orang tua Ida berlari mendekati perawat dan membuka penutup
badan. Ida ia terbaring pucat dan kaku, nyawanya tak tertolong. Tendangan di
dadanya telah menghentikan nafasnya. Semua yang berada di situ menangis
histeris termasuk orang tua, dan para sahabat Ida. Orang yang selama ini
dikenal baik dan tidak sombong itu telah menghadap Tuhannya.
Candra menangis di atas makan
yang masih merah itu. Ia tak menyangka jika Ida harus pergi secepat itu. Ia pun
juga menyesali perbuatannya di masa lalu yang tega meninggalkan dan menyakiti
hati Ida. Disaat dirinya telah sukses dan memiliki nyali untuk berani kembali,
justru malah Ida yang pergi. Bahkan bukan sekedar pergi untuk mengejar mimpi
belaka, tetapi pergi selama – lamanya dari kehidupan dunia. Candra benar –
benar menyesali perbuatannya. Tata dan Reny yang menyaksikan hal itu pun angkat
bicara dan membujuk Candra untuk pulang karena hari sudah larut malam dan akan
hujan. Setelah dibujuk – bujuk, akhirnya Candra mengikuti perkataan Tata.
Seminggu setelah kematian Ida,
Candra mendatangi rumah Tata. Ia berpamitan pergi ke Malaysia karena telah
menandatangani kontrak kerja di sana selama 1 tahun. Awalnya Candra tak ingin
menerima kontrak kerja itu karena ingin berada di negeri sendiri sembari
menjemput jodohnya, Ida. Berhubung Ida sudah tenang, Candra merasa harus pergi
sejenak agar tak berlarut dalam kesedihan.
Tata dan keluarganya melepas
kepergian Candra. Sebelum berpisah, Tata memberikan sebuah undangan dan
berbisik ke telinga Candra “kamu harus datang ke pertunanganku dan Reny bulan
depan”. Candra mengangguk tersenyum dan memberikan ucapan selamat serta doa
kepada Tata. Bathin Candra berteriak “harusnya aku dan Ida juga bertunangan
seperti mereka”. Karena tak kuasa dan takut ketahuan oleh keluarga Tata kalau dirinya
bersedih, Candra pun melangkahkan kaki pergi dan mengusap air matanya. Kini
kehilangan telah menjelaskan kepadanya tentang sebuah arti memiliki.
SELESAI
Jakarta,
November 2016



